Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan saya di catatan sebelumnya, yaitu “Hypnosis” dan “bukan Hypnosis”. Oleh karena itu tulisan ini ditujukan bagi para Hypnotist yang memiliki attitude untuk menganggap “trance” sebagai salah satu “penanda” penting dalam persitiwa Hypnosis, untuk membedakannya dengan peristiwa “bukan Hypnosis”.
Walaupun tahapan proses Hypnosis sudah sangat sering dibahas di buku-buku atau di proses pembelajaran Live-Class, akan tetapi kali ini sekali lagi akan saya uraikan tahapan umum proses Hypnosis yang dimaksudkan untuk membawa subyek ke kondisi “trance”, dan hal ini berlaku secara umum untuk tipe Hypnosis apapun juga (direct, indirect, waking, trance, conversational, dll), dan dengan tujuan apapun juga (therapy, entertainment, kegiatan konseling, dsb.).
Tahapan tersebut adalah :
1. Building Rapport – Kalibrasi
2. Induction – Kalibrasi
3. Shifting Consciousness – Kalibrasi
Building Rapport
Tahapan ini merupakan tahapan terpenting untuk membangun “connectedness” antara Hypnotist dan subyek. Connectedness yang baik sangat dibutuhkan untuk membawa seorang subyek menuju “Trance” melalui proses berikutnya.
Secara umum Building Rapport dilakukan dengan melalui proses komunikasi awal yang melibatkan seni “pacing-leading” serta kemampuan untuk melakukan utilisasi terhadap pandangan, value, belief, meta-program, dan berbagai aspek lainnya dari Subyek. Rapport harus terbentuk di tingkatan unconscious.
Dalam conventional hypnotism, proses Building Rapport di tingkat unconscious biasa melibatkan “Hypnotic Training” melalui Physical – Emotional Suggestibility Test, akan tetapi pada non conventional hypnotism seorang Hypnotist dituntut untuk piawai dalam memainkan komunikasi verbal.
Connectedness yang baik akan sangat membantu Hypnotist untuk dapat memilih gaya dan teknik Induction yang tepat bagi subyek.
Induction
Yang dimaksudkan dengan Induction pada tulisan ini tidak semata-mata conventional induction seperti misalkan : Dave Elman, Progressive Relaxation, Seven Plus Minus Two, tetapi juga berlaku untuk “gaya” Ericksonian misalkan “My Friend John”, Double Bind, dan Nested Loop, dan juga teknik indirect pada Conversational Hypnosis yang banyak menerapkan Milton-Model.
Induction yang dimaksudkan disini adalah suatu langkah atau proses tertentu yang dapat melibatkan pergeseran dominasi antara “conscious Mind” dan “cubconscious Mind”, atau minimal menghentikan sejenak conscious mind dari subyek, entah dilakukan secara mata tertutup, terbuka, melibatkan aksi fisik, atau hanya komunikasi verbal semata-mata, yang tentunya bergantung dari kebutuhan, kondisi subyek, serta tujuan dari Hypnosis itu sendiri.
Shifting Consciousness
Tahapan ini benar-benar dimaksudkan untuk menggeser dominasi dari “conscious mind” atau dengan kata lain menghasilkan kondisi “trance”. Hypnotist benar-benar harus memiliki sistem dan keterampilan yang dapat secara aktif melakukan proses pergeseran ini.
Kalibrasi
Kalibrasi merupakan salah satu kemampuan yang mutlak harus dikuasai oleh seorang Hypnotist. Kalibrasi melibatkan cara “membaca” dan “merasakan” keadaan subyek di berbagai aspek, mulai dari respons verbal sampai dengan fisiologis dari subyek. Kalibrasi diterapkan di seluruh proses Hypnosis.
Kemampuan kalibrasi akan menentukan “timing” yang tepat untuk melakukan suatu proses, atau melakukan suatu perubahan teknik dan pendekatan, serta menentukan langkah “exit” bilamana terjadi kegagalan sehingga proses Hypnosis sementara waktu harus ditunda.
Contoh :
Berikut ini akan diberikan contoh dari teknik Conversational Hypnosis untuk kejahatan yang pernah saya temukan di negara Malaysia (pada tahun 2005 – 2006 saya menyelenggarakan berbagai pelatihan secara rutin di Kuala Lumpur), dimana dalam peristiwa ini saya berkesempatan untuk melakukan proses de-Hypnotization dan forensik.
Obyek dari kejahatan Hypnosis ini adalah para kasir di pusat layanan telekomunikasi (semacam warnet), dan pelakunya pada umumnya adalah migran dari etnis dari suatu wilayah di persia.
Mengapa contoh yang diberikan adalah teknik kejahatan Hypnosis ? Karena menurut pandangan saya pribadi Hypnosis jenis ini merupakan Hypnosis yang sangat alamiah dan menerapkan kemampuan teknik yang sangat tinggi, sehingga cukup menarik untuk dipelajari dan tentunya diterapkan di aplikasi yang lebih positif. Untuk alasan keamanan, maka saya hanya akan menuliskan hal-hal yang penting saja untuk dapat kita analisa bersama.
Building Rapport
Pelaku melakukan Building Rapport dengan sangat cepat dan efektif, memanfaatkan unsur surprise (kejutan) yang bertujuan untuk menurunkan jumlah fokus dari “korban”. Seluruh prinsip Pacing-Leading, Yes-Set, Macthing, Mirroring dimanfaatkan dengan baik.
Induction
Teknik Induction yang dilakukan adalah pola “confusing”, tetapi memanfaatkan tema sederhana. Dalam contoh ini, pelaku melakukan suatu pembelian barang sederhana, dengan uang besar yang membutuhkan pengembalian, dan ketika dilakukan pengembalian, pelaku mengatakan :
“Saya tidak mau uang seri ini, saya ingin uang yang memiliki seri yang berawal dengan huruf BLX”
Dengan pernyataan yang sangat “aneh” ini, maka conscious mind dari “korban” akan terhenti sejenak, sehingga dengan kalibrasi yang prima dapat dilanjutkan ke proses berikutnya, yaitu “shifting consciousness”. Kalibrasi sangat diperlukan, karena seringkali justru diperlukan proses “exit” jika diperkirakan proses Hypnosis akan menemui kegagalan.
Shifting Consciousness
Pada tahapan ini pelaku akan memperdalam kondisi “trance” dengan teknik trial melalui sugesti yang bersifat moderat, misalkan :
“Nah, agar anda jelas menangkap maksud saya, sebaiknya anda pindahkan gelas itu ke kanan”.
Pada tahapan ini, kemampuan kalibrasi dari pelaku harus sangat prima untuk dapat “menangkap” apa yang terjadi di dunia internal dari “korban”.
Selanjutnya pelaku akan memberikan sugesti yang lebih “tajam” alias “agak tidak logis”, untuk memastikan bahwa “korban” benar-benar telah memasuki “trance”. Trance yang dimaksudkan disini benar-benar dideteksi dengan penanda pasti, misalkan : “time distortion” dan “lost frame”.
Setelah pelaku yakin bahwa “korban” telah memasuki “trance” yang dibutuhkan, maka pelaku melakukan “Trance Utilization” yang dalam hal ini tentu saja dimaksudkan untuk hal-hal negatif (kejahatan).
***
Demikian tulisan sederhana ini, yang diharapkan dapat menambah wacana untuk para praktisi Hypnosis sehingga dapat lebih “tajam” dalam berlatih, terutama dengan adanya tahapan-tahapan yang benar-benar harus diamati dan dilalui, tidak sekedar misalnya hanya melakukan induction tanpa kalibrasi dan target yang jelas.
Tabik,
Yan Nurindra
Catatan : Thanks terhadap “sparing partner” saya Kang Ronny F. Ronodirdjo yang banyak membantu saya dalam berbagai eksperimen Non-Conventional Hypnosis, dengan kemampuan “Lingusitic Decoding”-nya yang sangat luar biasa.