AKU TOLAK LAMARANMU

April 28, 2010

Tulisan yg sangat menarik, mungkin sepintas terkesan “aneh & over” tapi saya melihatnya tidak seperti itu,, tulisan ini berusaha menyampaikan pelajaran penting untuk yg sedang mencari , semoga dapat menemukan yg dicari ..^_^

baca terus yaa………….

****

Mereka, lelaki & perempuan, yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta’aruf yang singkat mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang lelaki sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktif di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka di suatu pagi, di sebuah rumah, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi kau akan melamar anakku?” tanya sang laki-laki setengah baya.

“Iya, Pak,” jawab sang pemuda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?” tanya sang laki-laki setengah baya sambil menunjuk si perempuan.

“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang pemuda mencoba meyakinkan.

“Aku tolak lamaranmu. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu! Bukankah Islam tidak mengenal istilah pacaran?” balas sang laki-laki setengah baya.

Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu. Semenjak kami berkenalan, kami baru 3 kali bertemu.”

“Aku tolak lamaranmu. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak terlalu mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya, keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”

“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.

“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di kampus,” jawab sang pemuda, percaya diri.

“Aku tolak lamaranmu. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”

“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”

“Aku tolak lamaranmu. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”

“Kamu lulusan mana?”

“Saya lulusan Matematika Sebuah Universitas Negeri ternama Pak. Universitas itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan SMA ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”

“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”

“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”

“Jadi kamu sudah bekerja?”

“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”

“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”

“Lamaranmu tetap aku tolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”

“Rencananya maharmu apa?”

“Seperangkat alat shalat Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Maaf, kami sudah punya banyak banget. Kalau tidak percaya, lihat saja di lemari”.

“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang lima puluh juta rupiah Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kau pikir aku itu matre. Menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan itu datang lagi, “Dia jago IT lho Pak”

“Kamu bisa internet?”

“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”

“Aku tolak lamaranmu. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”

“Tapi saya nge-net cuma ngecek imel saja kok Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Sang gadis berkata, “Tapi Ayah…”

Sang laki-laki paruh baya langsung berkata kepada laki-laki muda, “Kamu kesini tadi naik apa?”

“Mobil Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”

“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”

“Aku tolak lamaranmu. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Sang gadis berkata, “Ayahh..”

Sang ayah berkata, “Kamu merasa ganteng ya?”

“Nggak Pak. Biasa saja kok”

“Aku tolak lamaranmu. Mbok yo kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”

“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”

“Aku tolak lamaranmu. Kamu berpotensi menjadi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.

“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”

Sang setengah lelaki setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.”

Mata sang Pemuda ikut berkaca-kaca.

Sumber: Eska Infinity

January 13, 2010
Intisari Proses Hypnosis

Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan saya di catatan sebelumnya, yaitu “Hypnosis” dan “bukan Hypnosis”. Oleh karena itu tulisan ini ditujukan bagi para Hypnotist yang memiliki attitude untuk menganggap “trance” sebagai salah satu “penanda” penting dalam persitiwa Hypnosis, untuk membedakannya dengan peristiwa “bukan Hypnosis”.

Walaupun tahapan proses Hypnosis sudah sangat sering dibahas di buku-buku atau di proses pembelajaran Live-Class, akan tetapi kali ini sekali lagi akan saya uraikan tahapan umum proses Hypnosis yang dimaksudkan untuk membawa subyek ke kondisi “trance”, dan hal ini berlaku secara umum untuk tipe Hypnosis apapun juga (direct, indirect, waking, trance, conversational, dll), dan dengan tujuan apapun juga (therapy, entertainment, kegiatan konseling, dsb.).

Tahapan tersebut adalah :

1. Building Rapport – Kalibrasi
2. Induction – Kalibrasi
3. Shifting Consciousness – Kalibrasi

Building Rapport

Tahapan ini merupakan tahapan terpenting untuk membangun “connectedness” antara Hypnotist dan subyek. Connectedness yang baik sangat dibutuhkan untuk membawa seorang subyek menuju “Trance” melalui proses berikutnya.

Secara umum Building Rapport dilakukan dengan melalui proses komunikasi awal yang melibatkan seni “pacing-leading” serta kemampuan untuk melakukan utilisasi terhadap pandangan, value, belief, meta-program, dan berbagai aspek lainnya dari Subyek. Rapport harus terbentuk di tingkatan unconscious.

Dalam conventional hypnotism, proses Building Rapport di tingkat unconscious biasa melibatkan “Hypnotic Training” melalui Physical – Emotional Suggestibility Test, akan tetapi pada non conventional hypnotism seorang Hypnotist dituntut untuk piawai dalam memainkan komunikasi verbal.

Connectedness yang baik akan sangat membantu Hypnotist untuk dapat memilih gaya dan teknik Induction yang tepat bagi subyek.

Induction

Yang dimaksudkan dengan Induction pada tulisan ini tidak semata-mata conventional induction seperti misalkan : Dave Elman, Progressive Relaxation, Seven Plus Minus Two, tetapi juga berlaku untuk “gaya” Ericksonian misalkan “My Friend John”, Double Bind, dan Nested Loop, dan juga teknik indirect pada Conversational Hypnosis yang banyak menerapkan Milton-Model.

Induction yang dimaksudkan disini adalah suatu langkah atau proses tertentu yang dapat melibatkan pergeseran dominasi antara “conscious Mind” dan “cubconscious Mind”, atau minimal menghentikan sejenak conscious mind dari subyek, entah dilakukan secara mata tertutup, terbuka, melibatkan aksi fisik, atau hanya komunikasi verbal semata-mata, yang tentunya bergantung dari kebutuhan, kondisi subyek, serta tujuan dari Hypnosis itu sendiri.

Shifting Consciousness

Tahapan ini benar-benar dimaksudkan untuk menggeser dominasi dari “conscious mind” atau dengan kata lain menghasilkan kondisi “trance”. Hypnotist benar-benar harus memiliki sistem dan keterampilan yang dapat secara aktif melakukan proses pergeseran ini.

Kalibrasi

Kalibrasi merupakan salah satu kemampuan yang mutlak harus dikuasai oleh seorang Hypnotist. Kalibrasi melibatkan cara “membaca” dan “merasakan” keadaan subyek di berbagai aspek, mulai dari respons verbal sampai dengan fisiologis dari subyek. Kalibrasi diterapkan di seluruh proses Hypnosis.

Kemampuan kalibrasi akan menentukan “timing” yang tepat untuk melakukan suatu proses, atau melakukan suatu perubahan teknik dan pendekatan, serta menentukan langkah “exit” bilamana terjadi kegagalan sehingga proses Hypnosis sementara waktu harus ditunda.

Contoh :

Berikut ini akan diberikan contoh dari teknik Conversational Hypnosis untuk kejahatan yang pernah saya temukan di negara Malaysia (pada tahun 2005 – 2006 saya menyelenggarakan berbagai pelatihan secara rutin di Kuala Lumpur), dimana dalam peristiwa ini saya berkesempatan untuk melakukan proses de-Hypnotization dan forensik.

Obyek dari kejahatan Hypnosis ini adalah para kasir di pusat layanan telekomunikasi (semacam warnet), dan pelakunya pada umumnya adalah migran dari etnis dari suatu wilayah di persia.

Mengapa contoh yang diberikan adalah teknik kejahatan Hypnosis ? Karena menurut pandangan saya pribadi Hypnosis jenis ini merupakan Hypnosis yang sangat alamiah dan menerapkan kemampuan teknik yang sangat tinggi, sehingga cukup menarik untuk dipelajari dan tentunya diterapkan di aplikasi yang lebih positif. Untuk alasan keamanan, maka saya hanya akan menuliskan hal-hal yang penting saja untuk dapat kita analisa bersama.

Building Rapport

Pelaku melakukan Building Rapport dengan sangat cepat dan efektif, memanfaatkan unsur surprise (kejutan) yang bertujuan untuk menurunkan jumlah fokus dari “korban”. Seluruh prinsip Pacing-Leading, Yes-Set, Macthing, Mirroring dimanfaatkan dengan baik.

Induction

Teknik Induction yang dilakukan adalah pola “confusing”, tetapi memanfaatkan tema sederhana. Dalam contoh ini, pelaku melakukan suatu pembelian barang sederhana, dengan uang besar yang membutuhkan pengembalian, dan ketika dilakukan pengembalian, pelaku mengatakan :

“Saya tidak mau uang seri ini, saya ingin uang yang memiliki seri yang berawal dengan huruf BLX”

Dengan pernyataan yang sangat “aneh” ini, maka conscious mind dari “korban” akan terhenti sejenak, sehingga dengan kalibrasi yang prima dapat dilanjutkan ke proses berikutnya, yaitu “shifting consciousness”. Kalibrasi sangat diperlukan, karena seringkali justru diperlukan proses “exit” jika diperkirakan proses Hypnosis akan menemui kegagalan.

Shifting Consciousness

Pada tahapan ini pelaku akan memperdalam kondisi “trance” dengan teknik trial melalui sugesti yang bersifat moderat, misalkan :

“Nah, agar anda jelas menangkap maksud saya, sebaiknya anda pindahkan gelas itu ke kanan”.

Pada tahapan ini, kemampuan kalibrasi dari pelaku harus sangat prima untuk dapat “menangkap” apa yang terjadi di dunia internal dari “korban”.

Selanjutnya pelaku akan memberikan sugesti yang lebih “tajam” alias “agak tidak logis”, untuk memastikan bahwa “korban” benar-benar telah memasuki “trance”. Trance yang dimaksudkan disini benar-benar dideteksi dengan penanda pasti, misalkan : “time distortion” dan “lost frame”.

Setelah pelaku yakin bahwa “korban” telah memasuki “trance” yang dibutuhkan, maka pelaku melakukan “Trance Utilization” yang dalam hal ini tentu saja dimaksudkan untuk hal-hal negatif (kejahatan).

***

Demikian tulisan sederhana ini, yang diharapkan dapat menambah wacana untuk para praktisi Hypnosis sehingga dapat lebih “tajam” dalam berlatih, terutama dengan adanya tahapan-tahapan yang benar-benar harus diamati dan dilalui, tidak sekedar misalnya hanya melakukan induction tanpa kalibrasi dan target yang jelas.

Tabik,

Yan Nurindra

Catatan : Thanks terhadap “sparing partner” saya Kang Ronny F. Ronodirdjo yang banyak membantu saya dalam berbagai eksperimen Non-Conventional Hypnosis, dengan kemampuan “Lingusitic Decoding”-nya yang sangat luar biasa.

Hello world!

January 5, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.